Hukum Aqiqah

Alamat dan Nomor Telepon Praktisi Ruqyah Lampung
Perumnas BKP (Bukit Kemiling Permai) Blok j no. 51
HP/WA :  082311685474

AHKAMUL AQIQAH

Oleh

Abu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i



[A]. PENGERTIAN AQIQAH



Imam Ibnul Qayyim rahimahulloh dalam kitabnya “Tuhfatul Maudud” hal.25-26,

mengatakan bahwa : Imam Jauhari berkata : Aqiqah ialah “Menyembelih hewan

pada hari ketujuhnya dan mencukur rambutnya.” Selanjutnya Ibnu Qayyim

rahimahulloh berkata :



“Dari penjelasan ini jelaslah bahwa aqiqah itu disebut demikian karena

mengandung dua unsur diatas dan ini lebih utama.”



Imam Ahmad rahimahulloh dan jumhur ulama berpendapat bahwa apabila ditinjau

dari segi syar’i maka yang dimaksud dengan aqiqah adalah makna berkurban

atau menyembelih (an-nasikah).



[B]. DALIL-DALIL SYAR’I TENTANG AQIQAH



Hadist no.1 :

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata : Rasululloh bersabda : “Aqiqah

dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah

semua gangguan darinya.” [Shahih Hadits Riwayat Bukhari (5472), untuk lebih

lengkapnya lihat Fathul Bari (9/590-592), dan Irwaul Ghalil (1171), Syaikh

Albani]



Makna menghilangkan gangguan adalah mencukur rambut bayi atau menghilangkan

semua gangguan yang ada [Fathul Bari (9/593) dan Nailul Authar (5/35),

Cetakan Darul Kutub Al-’Ilmiyah, pent]



Hadist no.2 :

Dari Samurah bin Jundab dia berkata : Rasulullah bersabda : “Semua anak bayi

tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan

(kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” [Shahih, Hadits Riwayat Abu

Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8,

17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya]



Hadist no.3 :

Dari Aisyah dia berkata : Rasulullah bersabda : “Bayi laki-laki diaqiqahi

dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” [Shahih,

Hadits Riwayat Ahmad (2/31, 158, 251), Tirmidzi (1513), Ibnu Majah (3163),

dengan sanad hasan]



Hadist no.4 :

Dari Ibnu Abbas bahwasannya Rasulullah bersabda : “Menaqiqahi Hasan dan

Husain dengan satu kambing dan satu kambing.” [HR Abu Dawud (2841) Ibnu

Jarud dalam kitab al-Muntaqa (912) Thabrani (11/316) dengan sanadnya shahih

sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiqiel ‘Ied]



Hadist no.5 :

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena

kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang

sama dan untuk perempuan satu kambing.” [Sanadnya Hasan, Hadits Riwayat Abu

Dawud (2843), Nasa’I (7/162-163), Ahmad (2286, 3176) dan Abdur Razaq

(4/330), dan shahihkan oleh al-Hakim (4/238)]



Hadist no.6 :

Dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Hasan, dia berkata :

Rasulullah bersabda : “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak

kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya.” [Sanadnya Hasan, Hadits

iwayat Ahmad (6/390), Thabrani dalam “Mu’jamul Kabir” 1/121/2, dan

al-Baihaqi (9/304) dari Syuraiq dari Abdillah bin Muhammad bin Uqoil]



Dari dalil-dalil yang diterangkan di atas maka dapat diambil hukum-hukum

mengenai seputar aqiqah dan hal ini dicontohkan oleh Rasulullah para sahabat

serta para ulama salafus sholih.



[C]. HUKUM-HUKUM SEPUTAR AQIQAH



HUKUM AQIQAH SUNNAH



Al-Allamah Imam Asy-Syaukhani rahimahulloh berkata dalam Nailul Authar

(6/213) : “Jumhur ulama berdalil atas sunnahnya aqiqah dengan hadist Nabi :

“….berdasarkan hadist no.5 dari ‘Amir bin Syu’aib.”



BANTAHAN TERHADAP ORANG YANG MENGINGKARI DAN MEMBID’AHKAN AQIAH



Ibnul Mundzir rahimahulloh membantah mereka dengan mengatakan bahwa :

“Orang-orang ‘Aqlaniyyun (orang-orang yang mengukur kebenaran dengan

akalnya, saat ini seperti sekelompok orang yang menamakan sebagai kaum Islam

Liberal, pen) mengingkari sunnahnya aqiqah, pendapat mereka ini jelas

menyimpang jauh dari hadist-hadist yang tsabit (shahih) dari Rasulullah

karena berdalih dengan hujjah yang lebih lemah dari sarang laba-laba.”

[Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya “Tuhfatul

Maudud” hal.20, dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam “Fathul Bari” (9/588)].



WAKTU AQIQAH PADA HARI KETUJUH



Berdasarkan hadist no.2 dari Samurah bin Jundab. Para ulama berpendapat dan

sepakat bahwa waktu aqiqah yang paling utama adalah hari ketujuh dari hari

kelahirannya. Namun mereka berselisih pendapat tentang bolehnya melaksanakan

aqiqah sebelum hari ketujuh atau sesudahnya. Al-Hafidz Ibnu Hajar

rahimahulloh berkata dalam kitabnya “Fathul Bari” (9/594) :



“Sabda Rasulullah pada perkataan ‘pada hari ketujuh kelahirannya’ (hadist

no.2), ini sebagai dalil bagi orang yang berpendapat bahwa waktu aqiqah itu

adanya pada hari ketujuh dan orang yang melaksanakannya sebelum hari ketujuh

berarti tidak melaksanakan aqiqah tepat pada waktunya. bahwasannya syariat

aqiqah akan gugur setelah lewat hari ketujuh. Dan ini merupakan pendapat

Imam Malik. Beliau berkata : “Kalau bayi itu meninggal sebelum hari ketujuh

maka gugurlah sunnah aqiqah bagi kedua orang tuanya.”



Sebagian membolehkan melaksanakannya sebelum hari ketujuh. Pendapat ini

dinukil dari Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya “Tuhfatul Maudud”

hal.35. Sebagian lagi berpendapat boleh dilaksanakan setelah hari ketujuh.

Pendapat ini dinukil dari Ibnu Hazm dalam kitabnya “al-Muhalla” 7/527.



Sebagian ulama lainnya membatasi waktu pada hari ketujuh dari hari

kelahirannya. Jika tidak bisa melaksanakannya pada hari ketujuh maka boleh

pada hari ke-14, jika tidak bisa boleh dikerjakan pada hari ke-21. Berdalil

dari riwayat Thabrani dalm kitab “As-Shagir” (1/256) dari Ismail bin Muslim

dari Qatadah dari Abdullah bin Buraidah :



“Kurban untuk pelaksanaan aqiqah, dilaksanakan pada hari ketujuh atau hari

ke-14 atau hari ke-21.” [Penulis berkata : “Dia (Ismail) seorang rawi yang

lemah karena jelek hafalannya, seperti dikatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar

dalam ‘Fathul Bari’ (9/594).” Dan dijelaskan pula tentang kedhaifannya

bahkan hadist ini mungkar dan mudraj]



BERSEDEKAH DENGAN DENGAN PERAK SEBERAT TIMBANGAN RAMBUT



Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Salim bin Dhoyyan berkata : “Dan disunnahkan

mencukur rambut bayi, bersedekah dengan perak seberat timbangan rambutnya

dan diberi nama pada hari ketujuhnya. Masih ada ulama yang menerangkan

tentang sunnahnya amalan tersebut (bersedekah dengan perak), seperti :

al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Ahmad, dan lain-lain.”



Adapun hadist tentang perintah untuk bersedekah dengan emas, ini adalah

hadit dhoif.



TIDAK ADA TUNTUNAN BAGI ORANG DEWASA UNTUK AQIQAH ATAS NAMA DIRINYA SENDIRI



Sebagian ulama mengatakan : “Seseorang yang tidak diaqiqahi pada masa

kecilnya maka boleh melakukannya sendiri ketika sudah dewasa”. Mungkin

mereka berpegang dengan hadist Anas yang berbunyi : “Rasulullah mengaqiqahi

dirinya sendiri setelah beliau diangkat sebagai nabi.” [Dhaif mungkar,

Hadits Riwayat Abdur Razaq (4/326) dan Abu Syaikh dari jalan Qatadah dari

Anas]



Sebenarnya mereka tidak punya hujjah sama sekali karena hadistnya dhaif dan

mungkar. Telah dijelaskan pula bahwa nasikah atau aqiqah hanya pada satu

waktu (tidak ada waktu lain) yaitu pada hari ketujuh dari hari kelahirannya.

Tidak diragukan lagi bahwa ketentuan waktu aqiqah ini mencakup orang dewasa

maupun anak kecil.



AQIQAH UNTUK ANAK LAKI-LAKI DUA KAMBING DAN PEREMPUAN SATU KAMBING



Berdasarkan hadist no.3 dan no.5 dari Aisyah dan ‘Amr bin Syu’aib. “Setelah

menyebutkan dua hadist diatas, al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam “Fathul

Bari” (9/592) : “Semua hadist yang semakna dengan ini menjadi hujjah bagi

jumhur ulama dalam membedakan antara bayi laki-laki dan bayi perempuan dalam

masalah aqiqah.”



Imam Ash-Shan’ani rahimahulloh dalam kitabnya “Subulus Salam” (4/1427)

mengomentari hadist Aisyah tersebut diatas dengan perkataannya : “Hadist ini

menunjukkan bahwa jumlah kambing yang disembelih untuk bayi perempuan ialah

setengah dari bayi laki-laki.”



Al-’Allamah Shiddiq Hasan Khan rahimahulloh dalam kitabnya “Raudhatun

Nadiyyah” (2/26) berkata : “Telah menjadi ijma’ ulama bahwa aqiqah untuk

bayi perempuan adalah satu kambing.”



Penulis berkata : “Ketetapan ini (bayi laki-laki dua kambing dan perempuan

satu kambing) tidak diragukan lagi kebenarannya.”



BOLEH AQIQAH BAYI LAKI-LAKI DENGAN SATU KAMBING



Berdasarkan hadist no. 4 dari Ibnu Abbas. Sebagian ulama berpendapat boleh

mengaqiqahi bayi laki-laki dengan satu kambing yang dinukil dari perkataan

Abdullah bin ‘Umar, ‘Urwah bin Zubair, Imam Malik dan lain-lain mereka semua

berdalil dengan hadist Ibnu Abbas diatas.



Tetapi al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahulloh berkata dalam kitabnya “Fathul

Bari” (9/592) : “…..meskipun hadist riwayat Ibnu Abbas itu tsabit

(shahih), tidaklah menafikan hadist mutawatir yang menentukan dua kambing

untuk bayi laki-laki. Maksud hadist itu hanyalah untuk menunjukkan bolehnya

mengaqiqahi bayi laki-laki dengan satu kambing….”



Sunnah ini hanya berlaku untuk orang yang tidak mampu melaksanakan aqiqah

dengan dua kambing. Jika dia mampu maka sunnah yang shahih adalah laki-laki

dengan dua kambing.



[D]. AQIQAH DENGAN KAMBING



TIDAK SAH AQIQAH KECUALI DENGAN KAMBING



Telah lewat beberapa hadist yang menerangkan keharusan menyembelih dua ekor

kambing untuk laki-laki dan satu ekor kambing untuk perempuan. Ini

menandakan keharusan untuk aqiqah dengan kambing.



Dalam “Fathul Bari” (9/593) al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahulloh menerangkan :

“Para ulama mengambil dalil dari penyebutan syaatun dan kabsyun (kibas, anak

domba yang telah muncul gigi gerahamnya) untuk menentukan kambing buat

aqiqah.” Menurut beliau : “Tidak sah aqiqah seseorang yang menyembelih

selain kambing”.



Sebagian ulama berpendapat dibolehkannya aqiqah dengan unta, sapi, dan

lain-lain. Tetapi pendapat ini lemah karena :



[1] Hadist-hadist shahih yang menunjukkan keharusan aqiqah dengan kambing

semuanya shahih, sebagaimana pembahasan sebelumnya.



[2] Hadist-hadist yang mendukung pendapat dibolehkannya aqiqah dengan selain

kambing adalah hadist yang talif saqith alias dha’if.



PERSYARATAN KAMBING AQIQAH TIDAK SAMA DENGAN KAMBING KURBAN [IDUL ADHA]



Penulis mengambil hujjah ini berdasarkan pendapat dari Imam As-Shan’ani,

Imam Syaukani, dan Iman Ibnu Hazm bahwa kambing aqiqah tidak disyaratkan

harus mencapai umur tertentu atau harus tidak cacat sebagaimana kambing Idul

Adha, meskipun yang lebih utama adalah yang tidak cacat.



Imam As-Shan’ani dalam kitabnya “Subulus Salam” (4/1428) berkata : “Pada

lafadz syaatun (dalam hadist sebelumnya) menunjukkan persyaratan kambing

untuk aqiqah tidak sama dengan hewan kurban. Adapun orang yang menyamakan

persyaratannya, mereka hanya berdalil dengan qiyas.”



Imam Syaukhani dalam kitabnya “Nailul Authar” (6/220) berkata : “Sudah jelas

bahwa konsekuensi qiyas semacam ini akan menimbulkan suatu hukum bahwa semua

penyembelihan hukumnya sunnah, sedang sunnah adalah salah satu bentuk

ibadah. Dan saya tidak pernah mendengar seorangpun mengatakan samanya

persyaratan antara hewan kurban (Idul Adha) dengan pesta-pesta (sembelihan)

lainnya. Oleh karena itu, jelaslah bagi kita bahwa tidak ada satupun ulama

yang berpendapat dengan qiyas ini sehingga ini merupakan qiyas yang bathil.”



Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya “Al-Muhalla” (7/523) berkata : “Orang yang

melaksanakan aqiqah dengan kambing yang cacat, tetap sah aqiqahnya sekalipun

cacatnya termasuk kategori yang dibolehkan dalam kurban Idul Adha ataupun

yang tidak dibolehkan. Namun lebih baik (afdhol) kalau kambing itu bebas

dari catat.”



BACAAN KETIKA MENYEMBELIH KAMBING



Firman Alloh Ta’ala : “Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu dan

sebutlah nama Allah…” [Al-Maidah : 4]



Firman Alloh Ta’ala : “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang

tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya, sesungguhnya perbuatan

semacam itu adalah suatu kefasikan.” [Al-An’am : 121]



Adapun petunjuk Nabi tentang tasmiyah (membaca bismillah) sedah masyhur dan

telah kita ketahui bersama (lihat Irwaul Ghalil 2529-2536-2545-2551, karya

Syaikh Al-Albani). Oleh karena itu, doa tersebut juga diucapkan ketika

meyembelih hewan untuk aqiqah karena merupakan salah satu jenis kurban yang

disyariatkan oleh Islam. Maka orang yang menyembelih itu biasa mengucapkan :

“Bismillahi wa Allohu Akbar”.



MENGUSAP DARAH SEMBELIHAN AQIQAH DI ATAS KEPALA BAYI MERUPAKAN PERBUATAN

BID’AH DAN JAHILIYAH



“Dari Aisyah berkata : Dahulu ahlul kitab pada masa jahiliyah, apabila mau

mengaqiqahi bayinya, mereka mencelupkan kapas pada darah sembelihan hewan

aqiqah. Setelah mencukur rambut bayi tersebut, mereka mengusapkan kapas

tersebut pada kepalanya ! Maka Rasulullah bersabda : “Jadikanlah

(gantikanlah) darah dengan khuluqun (sejenis minyak wangi).” [Shahih,

diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (5284), Abu Dawud (2743), dan disahihkan oleh

Hakim (2/438)]



Al-’Allamah Syaikh Al-Albani dalam kitabnya “Irwaul Ghalil” (4/388) berkata

: “Mengusap kepala bayi dengan darah sembelihan aqiqah termasuk kebiasaan

orang-orang jahiliyah yang telah dihapus oleh Islam.”



Al-’Allamah Imam Syukhani dala, kitabnya “Nailul Aithar” (6/214) menyatakan

: “Jumhur ulama memakruhkan (membenci) at-tadmiyah (mengusap kepala bayi

dengan darah sembelihan aqiqah)..”



Sedangkan pendapat yang membolehkan dengan hujjah dari Ibnu Abbas

bahwasannya dia berkata : “Tujuh perkara yang termasuk amalan sunnah

terhadap anak kecil….dan diusap dengan darah sembelihan aqiqah.” [Hadits

Riwayat Thabrani], maka ini merupakan hujjah yang dhaif dan mungkar.



BOLEH MENGHANCURKAN TULANGNYA [DAGING SEMBELIHAN AQIQAH]SEBAGAIMANA

SEMEBLIHAN LAINNYA



Inilah kesepekatan para ulama, yakni boleh menghancurkan tulangnya, seperti

ditegaskan Imam Malik dalam “Al-Muwaththa” (2/502), karena tidak adanya

dalil yang melarang maupun yang menunjukkan makruhnya. Sedang menghancurkan

tulang sembelihan sudah menjadi kebiasan disamping ada kebaikannya juga,

yaitu bisa diambil manfaat dari sumsum tersebut untuk dimakan.



Adapun pendapat yang menyelisihinya berdalil dengan hadist yang dhaif,

diantaranya adalah :



[1] Bahwasannya Rasulullah bersabda : “Janganlah kalian menghancurkan tulang

sembelihannya.” [Hadist Dhaif, karena mursal terputus sanadnya, Hadits

Riwayat Baihaqi (9/304)]

[2] Dari Aisyah dia berkata : “….termasuk sunnah aqiqah yaitu tidak

menghancurkan tulang sembelihannya….” [Hadist Dhaif, mungkar dan mudraj,

Hadits Riwayat. Hakim (4/283]



Kedua hadist diatas tidak boleh dijadikan dalil karena keduanya tidak

shahih. [lihat kitab “Al-Muhalla” oleh Ibnu Hazm (7/528-529)].



DISUNNAHKAN MEMASAK DAGING SEMBELIHAN AQIQAH DAN TIDAK MEMBERIKANNYA DALAM

KEADAAN MENTAH



Imam Ibnu Qayyim rahimahulloh dalam kitabnya “Tuhfathul Maudud” hal.43-44,

berkata : “Memasak daging aqiqah termasuk sunnah. Yang demikian itu, karena

jika dagingnya sudah dimasak maka orang-orang miskin dan tetangga (yang

mendapat bagian) tidak merasa repot lagi. Dan ini akan menambah kebaikan dan

rasa syukur terhadap nikmat tersebut. Para tetangga, anak-anak dan

orang-orang miskin dapat menyantapnya dengan gembira. Sebab orang yang

diberi daging yang sudah masak, siap makan, dan enak rasanya, tentu rasa

gembiranya lebih dibanding jika daging mentah yang masih membutuhkan tenaga

lagi untuk memasaknya….Dan pada umumnya, makanan syukuran (dibuat dalam

rangka untuk menunjukkan rasa syukur) dimasak dahulu sebelum diberikan atau

dihidangkan kepada orang lain.”



TIDAK SAH AQIQAH SESEORANG KALAU DAGING SEMBELIHANNYA DIJUAL



Imam Ibnu Qayyim rahimahulloh dalam kitabnya “Tuhfathul Maudud” hal.51-52,

berkata : “Aqiqah merupakan salah satu bentuk ibadah (taqarrub) kepada Alloh

Ta’ala. Barangsiapa menjual daging sembelihannya sedikit saja maka pada

hakekatnya sama saja tidak melaksanakannya. Sebab hal itu akan mengurangi

inti penyembelihannya. Dan atas dasar itulah, maka aqiqahnya tidak lagi

sesuai dengan tuntunan syariat secara penuh sehingga aqiqahnya tidak sah.

Demikian pula jika harga dari penjualan itu digunakan untuk upah

penyembelihannya atau upah mengulitinya” [lihat pula “Al-Muwaththa” (2/502)

oleh Imam Malik].



ORANG YANG AQIQAH BOLEH MEMAKAN, BERSEDEKAH, MEMBERI MAKAN, DAN

MENGHADIAHKAN DAGING SEMEBELIHANNYA, TETAPI YANG LEBIH UTAMA JIKA SEMUA

DIAMALKAN



Imam Ibnu Qayyim rahimahulloh dalam kitabnya “Tuhfathul Maudud” hal.48-49,

berkata : “Karena tidak ada dalil dari Rasulullah tentang cara penggunaan

atau pembagian dagingnya maka kita kembali ke hokum asal, yaitu seseorang

yang melaksanakan aqiqah boleh memakannya, memberi makan dengannya,

bersedekah dengannya kepada orang fakir miskin atau menghadiahkannya kepada

teman-teman atau karib kerabat. Akan tetapi lebih utama kalau diamalkan

semuanya, karena dengan demikian akan membuat senang teman-temannya yang

ikut menikmati daging tersebut, berbuat baik kepada fakir miskin, dan akan

memuat saling cinta antar sesama teman. Kita memohon taufiq dan kebenaran

kepada Alloh Ta’ala”. [lihat pula “Al-Muwaththa” (2/502) oleh Imam Malik].



JIKA AQIQAH BERTETAPAN DENGAN IDUL QURBAN, MAKA TIDAK SAH KALAU MENGERJAKAN

SALAH SATUNYA [SATU AMALAN DUA NIAT]



Penulis berkata : “Dalam masalah ini pendapat yang benar adalah tidak sah

menggabungkan niat aqiqah dengan kurban, kedua-duanya harus dikerjakan.

Sebab aqiqah dan adhiyah (kurban) adalah bentuk ibadah yang tidak sama jika

ditinjau dari segi bentuknya dan tidak ada dalil yang menjelaskan sahnya

mengerjakan salah satunya dengan niat dua amalan sekaligus. Sedangkan

sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah dan Alloh Ta’ala tidak

pernah lupa.”



TIDAK SAH AQIQAH SESEORANG YANG BERSEDEKAH DENGAN HARGA DAGING SEMBELIHANNYA

SEKALIPUN LEBIH BANYAK



Al-Khallah pernah berkata dalam kitabnya : “Bab Maa yustahabbu minal aqiqah

wa fadhliha ‘ala ash-shadaqah” : ” Kami diberitahu Sulaiman bin Asy’ats, dia

berkata Saya mendengar Ahmad bin Hambal pernah ditanya tentang aqiqah :

“Mana yang kamu senangi, daging aqiqahnya atau memberikan harganya kepada

orang lain (yakni aqiqah kambing diganti dengan uang yang disedekahkan

seharga dagingnya) ? Beliau menjawab : “Daging aqiqahnya.” [Dinukil dari

Ibnul Qayyim dalam “Tuhfathul Maudud” hal.35 dari Al-Khallal]



Penulis berkata : “Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bolehnya

bershadaqah dengan harga (daging sembelihan aqiqah) sekalipun lebih banyak,

maka aqiqah seseorang tidak sah jika bershadaqah dengan harganya dan ini

termasuk perbuatan bid’ah yang mungkar ! Dan sebaik-baik petunjuk adalah

petunjuk Muhammad .”



ADAB MENGHADIRI JAMUAN AQIQAH



Diantara bid’ah yang sering dikerjakan khususnya oleh ahlu ilmu adalah

memberikan ceramah yang berkaitan dengan hokum aqiqah dan adab-adabnya serta

yang berkaitan dengan masalah kelahiran ketika berkumpulnya orang banyak

(undangan) di acara aqiqahan pada hari ketujuh.



Jadi saat undangan pada berkumpul di acara aqiqahan, mereka membuat suatu

acara yang berisi ceramah, rangkaian do’a-do’a, dan bentuk-bentuk seperti

ibadah lainnya, yang mereka meyakini bahwa semuanya termasuk dari amalan

yang baik, padahal tidak lain hal itu adalah bid’ah, pent.



Perbuatan semacam itu tidak pernah dicontohkan dalam sunnah yang shahih

bahkan dalam dhaif sekalipun !! Dan tidak pernah pula dikerjakan oleh

Salafush Sholih rahimahumulloh. Seandainya perbuatan ini baik niscaya mereka

sudah terlebih dahulu mengamalkannya daripada kita. Dan ini termasuk dalam

hal bid’ah-bid’ah lainnya yang sering dikerjakan oleh sebagian masyarakat

kita dan telah masuk sampai ke depan pintu rumah-rumah kita, pent !!



Sedangkan yang disyariatkan disini adalah bahwa berkumpulnya kita di dalam

acara aqiqahan hanyalah untuk menampakkan kesenangan serta menyambut

kelahiran bayi dan bukan untuk rangkaian ibadah lainnya yang dibuat-buat.



Sedang sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad . Semua kabaikan itu

adalah dengan mengikuti Salaf dan semua kejelekan ada pada bid’ahnya Khalaf.



Wallahul Musta’an wa alaihi at-tiklaan.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.



[Disalin ringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Abu Muhammad

‘Ishom bin Mar’I, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan

diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Adam al-Bustoni, dengan judul “Aqiqah”

terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]